Tapai merupakan salah satu menu sunat orang bugis pada hari raya atau labih dikenali dengan panggilan “gambang”. Tapai memerlukan orang yang biasa memebuatnya kerana apabila orang yang tidak biasa membuatnya pasti rasa tapai tersebut tidak menepati cita rasa selera para penggemarnya.
Prosedur untuk membuatnya tidak begitu rumit tetapi penuh dengan adab atau pantang larang. Sebagai contoh wanita yang sedang haid tidak boleh mebuet atau menyentuh tapai yang seadang dibuat. Hal ini kerana, warna tapai yang masak akan menjadi kemerahan dan berkemungkinan rasa tapai tersebut akan terjejas kualitinya.
Bahan-bahan untuk mem buat tapai:
1; beras pulut
2; ragi (pemangkin)
Cara membuatnya:
1- beras pulut hendaklah di rendam
2- beras pulut dikukus sehingga masak @ menjadi “sokko”
3- “sokko” disejukkan dengan cara menhamparkannya di atas daun pisang.
4- Setelah “sokko” tersebut sejuk ragi akan dicampurkan. Sebelum itu ragi hendaklah dihancurkan dan selalunya orang tua-tua akan membaca mantera untuk menghasilkan rasa tapai yang lebih manis. Orang bugis bilang “pakkanre ni baca-baca mu ye muissengE”.
5- ragi diratakan pada “sokko” yang telah sejuk tadi. Bilang na orang bugis “ di pasisakkoi”.
6- Setalah itu beras pulut tadi akan dibulatkan-bulatkan. “di lebo-lebo i”.
7- beras yang telah dibulatkan kan disimpan pada bekas yang boleh memuatkan keseluruhan beras pulut tadi.
8- setelah itu, bekas tersebut akan dibungkus dengan kain. Kemudian tapai ini akan disembunyikan selama 2 malam atau sehingga tapai tersebut masak dan mengeluarkan aroma. “ ma’ bau ni cenning na”
Ritual maddupa keteng merupakan salah satu tata cara menyambut datangnya bulan ramadhan. Maddupa keteng dalam bahasa Bugis artinya menyambut bulan. Ritual ini biasanya diselenggarakan sesaat setelah terbenamnya matahari dan penanggalangan hijriah memasuki 1 ramadhan.
Tentu saja ritual maddupa keteng sebagaimana yang biasa diselenggarakan oleh masyarakat tradisional tidak disyariatkan oleh nabi Islam. Tetapi justru merupakan aktualisasi dari salah satu sabda Nabi, “ Barang siapa yang gembira dengan datangnya bulan ramadhan maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” Sabda tersebut kemudian diterjemahkan secara sosiologis berdasarkan kondisi masyarakat pada zamannya. Hal itu dianggap sebagai sebuah manaa (warisan) leluhur yang terus dilestarikan sampai saat ini meskipun dengan distorsi makna disana sini.
Sehari sebelum memasuki 1 ramadhan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi ini mulai disibukkan dengan persiapan acara penyambutan bulan baru. Disamping mempersiapkan hidangan sebagai ungkapan kesyukuran mabbaca doang (membaca doa) mereka juga mulai menumbuk kemiri untuk dibuat pesse pelleng ( lilin yang terbuat dari kemiri).
Sesat setelah matahari terbenam dan kegelapan mulai menyergap, pesse pelleng tersebut dinyalakan. Ritual ini disebut dengan mappepe-pepe. Dimulai dari tempat-tempat yang disakralkan seperti makam orang-orang yang dianggap suci maupun mesjid-mesjid. Ritual ini menegaskan bahwa puang lise kampong (pemimpin atau orang yang dituakan dalam masyarakat) harus terlebih dahulu memberikan contoh yang baik kepada rakyatnya.
Setelah tetua adat memberi tanda bahwa ritual mappepe-pepe sudah dilaksanakan dipelataran suci maka dimulailah ritual itu dilaksaanakan dirumah-rumah penduduk. Terlebih dahulu pesse pelleng harus dinyalakan di posi bola (rumah panggung tradisional menetapkan satu tiang tengah sebagai pusat rumah). Hal ini memiliki makna secara simbolik. Bahwa dalam menyambut datangnya bulan keberkahan terlebih dahulu hati sebagai pusat watakkale (tubuh) harus diterangi oleh cahaya keinsyafan.
Pada saat pesse pelleng selesai dinyalakan di posi bola dilanjutkanlah dengan menancapkan lilin tradisional itu pada setiap tiang keliling rumah. Hal ini mmenegaskan tentang pentingnya menyalakan cahaya kesadaran dalam setiap batang tubuh. Mengingat dalam bulan ramadhan tubuh, pikiran dan hati harus dibebaskan dari nafsu hewaniah yang rendah.
Ketika keseluruhan tiang telah dinyalakan dan laleng pola ( rumah bagian dalam) berada dalam keadaan terang benderang maka ritual diakhiri dengan menyalakan rangkaian pesse pelleng yang ditancapkan berjejer pada pelepah keladi hutan sebelah menyebelah. Kemudian ornament tradisional tersebut digantung disepan pintu masuk lego-lego (teras rumah panggung yang bersambung dengan tangga). Hal nii menegaskan pentingnya penyambutan rahmat (pammase) dan keberkahan (barakka) bulan ramadhan setelah terlebih dahulu kegelapan nafsiah diganti dengan cahaya ketulusan batiniah. Pada tahap penyambutan keberkahan ramadhan pada gerbang setiap diri dengan penuh kehidmatan dan kesyukuran itulah terletak makna kegembiraan yang sesungguhnya. Di sini sabda nabi menemukan korelasinya dengan sangat realistic.
Setelah rangkaian ritual mappepe-pepe selesai maka digelarlah perjamuan dan doa. Pada acara mabbaca doing itulah makna kegembiraan menemukan aktualisasinya. Dimana pada saat itu tetangga-tetangga dan sanak keluarga saling mengunjungi dan mencicipi hiudangan penyambutan dengan penuh suka cita.
Ritual maddupa keteng sebagaimana yang diuraikan rentetan di atas merupakan sepenggal tradisi yang pada maknanya yang terdalam memiliki muatan yang sangat positif. Hal ini dilandasi oleh cara pandang tradisional yang selalu melihat segala sesuatu sebagai sebuah kesatuan. Bahwa penyucian batin selalu ditegaskan dengan adanya penyucian simbolik lahiriah.
Maddupa keteng juga memuat serangkaian pesan-pesan terdalam terhadap bulan ramadhan. Disamping tentu saja sebagai ungkapan idjtihadi leluhur kita dalam mengapresiasi bentuk penghormatannya terhadap barakka (keberkahan) ramadhan. Dengan demikian ritual ini bisa pula dianggap sebagai gerak teatrikal masyarakat sebagai bentuk terjemahan atas pandangan dunianya.
Komentar ditutup.
About
Sejarah adalah masa lalu, tapi sejarah selalu memberikan pilihan-pilihan untuk memecahkan masalah-masalah kontemporer sehingga senantiasa abadi untuk dipelajari. Memahami sejarah, sama pentingnya memahami diri sendiri.
TAPAI MANIS @ “GAMBANG”
Tapai merupakan salah satu menu sunat orang bugis pada hari raya atau labih dikenali dengan panggilan “gambang”. Tapai memerlukan orang yang biasa memebuatnya kerana apabila orang yang tidak biasa membuatnya pasti rasa tapai tersebut tidak menepati cita rasa selera para penggemarnya.
Prosedur untuk membuatnya tidak begitu rumit tetapi penuh dengan adab atau pantang larang. Sebagai contoh wanita yang sedang haid tidak boleh mebuet atau menyentuh tapai yang seadang dibuat. Hal ini kerana, warna tapai yang masak akan menjadi kemerahan dan berkemungkinan rasa tapai tersebut akan terjejas kualitinya.
Bahan-bahan untuk mem buat tapai:
1; beras pulut
2; ragi (pemangkin)
Cara membuatnya:
1- beras pulut hendaklah di rendam
2- beras pulut dikukus sehingga masak @ menjadi “sokko”
3- “sokko” disejukkan dengan cara menhamparkannya di atas daun pisang.
4- Setelah “sokko” tersebut sejuk ragi akan dicampurkan. Sebelum itu ragi hendaklah dihancurkan dan selalunya orang tua-tua akan membaca mantera untuk menghasilkan rasa tapai yang lebih manis. Orang bugis bilang “pakkanre ni baca-baca mu ye muissengE”.
5- ragi diratakan pada “sokko” yang telah sejuk tadi. Bilang na orang bugis “ di pasisakkoi”.
6- Setalah itu beras pulut tadi akan dibulatkan-bulatkan. “di lebo-lebo i”.
7- beras yang telah dibulatkan kan disimpan pada bekas yang boleh memuatkan keseluruhan beras pulut tadi.
8- setelah itu, bekas tersebut akan dibungkus dengan kain. Kemudian tapai ini akan disembunyikan selama 2 malam atau sehingga tapai tersebut masak dan mengeluarkan aroma. “ ma’ bau ni cenning na”
Lihatlah hasil tapai yang telah masak.
Ritual Madduppa Keteng
Ritual maddupa keteng merupakan salah satu tata cara menyambut datangnya bulan ramadhan. Maddupa keteng dalam bahasa Bugis artinya menyambut bulan. Ritual ini biasanya diselenggarakan sesaat setelah terbenamnya matahari dan penanggalangan hijriah memasuki 1 ramadhan.
Tentu saja ritual maddupa keteng sebagaimana yang biasa diselenggarakan oleh masyarakat tradisional tidak disyariatkan oleh nabi Islam. Tetapi justru merupakan aktualisasi dari salah satu sabda Nabi, “ Barang siapa yang gembira dengan datangnya bulan ramadhan maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” Sabda tersebut kemudian diterjemahkan secara sosiologis berdasarkan kondisi masyarakat pada zamannya. Hal itu dianggap sebagai sebuah manaa (warisan) leluhur yang terus dilestarikan sampai saat ini meskipun dengan distorsi makna disana sini.
Sehari sebelum memasuki 1 ramadhan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi ini mulai disibukkan dengan persiapan acara penyambutan bulan baru. Disamping mempersiapkan hidangan sebagai ungkapan kesyukuran mabbaca doang (membaca doa) mereka juga mulai menumbuk kemiri untuk dibuat pesse pelleng ( lilin yang terbuat dari kemiri).
Sesat setelah matahari terbenam dan kegelapan mulai menyergap, pesse pelleng tersebut dinyalakan. Ritual ini disebut dengan mappepe-pepe. Dimulai dari tempat-tempat yang disakralkan seperti makam orang-orang yang dianggap suci maupun mesjid-mesjid. Ritual ini menegaskan bahwa puang lise kampong (pemimpin atau orang yang dituakan dalam masyarakat) harus terlebih dahulu memberikan contoh yang baik kepada rakyatnya.
Setelah tetua adat memberi tanda bahwa ritual mappepe-pepe sudah dilaksanakan dipelataran suci maka dimulailah ritual itu dilaksaanakan dirumah-rumah penduduk. Terlebih dahulu pesse pelleng harus dinyalakan di posi bola (rumah panggung tradisional menetapkan satu tiang tengah sebagai pusat rumah). Hal ini memiliki makna secara simbolik. Bahwa dalam menyambut datangnya bulan keberkahan terlebih dahulu hati sebagai pusat watakkale (tubuh) harus diterangi oleh cahaya keinsyafan.
Pada saat pesse pelleng selesai dinyalakan di posi bola dilanjutkanlah dengan menancapkan lilin tradisional itu pada setiap tiang keliling rumah. Hal ini mmenegaskan tentang pentingnya menyalakan cahaya kesadaran dalam setiap batang tubuh. Mengingat dalam bulan ramadhan tubuh, pikiran dan hati harus dibebaskan dari nafsu hewaniah yang rendah.
Ketika keseluruhan tiang telah dinyalakan dan laleng pola ( rumah bagian dalam) berada dalam keadaan terang benderang maka ritual diakhiri dengan menyalakan rangkaian pesse pelleng yang ditancapkan berjejer pada pelepah keladi hutan sebelah menyebelah. Kemudian ornament tradisional tersebut digantung disepan pintu masuk lego-lego (teras rumah panggung yang bersambung dengan tangga). Hal nii menegaskan pentingnya penyambutan rahmat (pammase) dan keberkahan (barakka) bulan ramadhan setelah terlebih dahulu kegelapan nafsiah diganti dengan cahaya ketulusan batiniah. Pada tahap penyambutan keberkahan ramadhan pada gerbang setiap diri dengan penuh kehidmatan dan kesyukuran itulah terletak makna kegembiraan yang sesungguhnya. Di sini sabda nabi menemukan korelasinya dengan sangat realistic.
Setelah rangkaian ritual mappepe-pepe selesai maka digelarlah perjamuan dan doa. Pada acara mabbaca doing itulah makna kegembiraan menemukan aktualisasinya. Dimana pada saat itu tetangga-tetangga dan sanak keluarga saling mengunjungi dan mencicipi hiudangan penyambutan dengan penuh suka cita.
Ritual maddupa keteng sebagaimana yang diuraikan rentetan di atas merupakan sepenggal tradisi yang pada maknanya yang terdalam memiliki muatan yang sangat positif. Hal ini dilandasi oleh cara pandang tradisional yang selalu melihat segala sesuatu sebagai sebuah kesatuan. Bahwa penyucian batin selalu ditegaskan dengan adanya penyucian simbolik lahiriah.
Maddupa keteng juga memuat serangkaian pesan-pesan terdalam terhadap bulan ramadhan. Disamping tentu saja sebagai ungkapan idjtihadi leluhur kita dalam mengapresiasi bentuk penghormatannya terhadap barakka (keberkahan) ramadhan. Dengan demikian ritual ini bisa pula dianggap sebagai gerak teatrikal masyarakat sebagai bentuk terjemahan atas pandangan dunianya.