La Mappanyukki Datu Lolo ri Suppa (1931–1946)
La Mappanyukki Datu Lolo ri Suppa yang juga dikernal dengan nama Datu Silaja. Pada masa Perang Gowa tahun 1906 M, ketika I Makkulawu Karaeng Lembang Parang KaraengE ri Gowa berperang dengan Kompeni Belanda. Setahun setelah tertangkapnya La Pawawoi dan diasingkan ke Bandung, Kompeni Belanda mengalihkan perangnya dari Bone ke Gowa. Padahal antara La Pawawoi Karaeng Sigeri dengan SombaE ri Gowa adalah bersepupu satu kali. Ketika itu La Mappanyukki menjadi Datu Lolo ri Suppa, dia bersaudara dengan La Panguriseng Datu Alitta. Karena ayahnya adalah Karaeng ri Gowa, sehingga Suppa dengan Alitta melibatkan diri pada Perang Gowa untuk membantu ayahnya.
Adapun sebabnya Gowa diperangi oleh Kompeni Belanda, karena Belanda menyangka kalau Dulung Awang Tangka Arung Labuaja salah seorang Panglima Perang Bone pada masa pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri bersembunyi di Gowa. Selain itu Belanda berkeyakinan apabila kedua Bocco (Bone dan Gowa) telah ditaklukkan, maka daerah-daerah lain di Celebes Selatan akan mudah ditaklukkan. Makanya ketika pusat pemerintahan Gowa berhasil diduduki, SombaE ri Gowa mengungsi ke Ajattappareng bersama pengikutnya. Dia menetap di Suppa dan Alitta karena tempat itu merupakan akkarungeng kedua anaknya yaitu La Panguriseng di Alitta dan La Mappanyukki di Suppa.
Perang Gowa berakhir dengan gugurnya KaraengE ri Gowa dan putranya yang bernama La Panguriseng Datu Alitta. Oleh karena itu KaraengE ri Gowa dinamakan Tu Mammenanga ri Bundu’na. Sementara La Mappanyukki ditawan oleh tentara Belanda dan diasingkan ke Selayar. Itulah sebabnya La Mappanyukki dinamakan pula sebagai Datu Silaja.
La Mappanyukki diangkat menjadi Mangkau’ di Bone menggantikan pamannya yaitu sepupu satu kali ayahnya, karena jelas bahwa dia adalah cucu dari MappajungE. Dia sengngempali dari turunan La Tenri Tappu MatinroE ri Rompegading. Dengan demikian Hadat Tujuh Bone dianggap tidak salah pilih dalam menentukan pengganti La Pawawoi Karaeng Sigeri sebagai Mangkau’ di Bone.
Ibu dari La Mappanyukki bernama We Cella atau We Bunga Singkeru’ atau We Tenri Paddanreng Arung Alitta anak La Parenrengi MatinroE ri Ajang Benteng dengan isterinya We Tenriawaru Pancai’tana Besse Kajuara. Sedangkan ayahnya bernama I Makkulawu Karaeng Lembang Parang Somba di Gowa Tu Mammenanga ri Bundu’na, anak dari We Pada Arung Berru, anak We Baego Arung Macege dengan suaminya Sumange’ Rukka To Patarai Arung Berru. We Baego adalah anak dari La Mappasessu To Appatunru Arumpone MatinroE ri Laleng Bata.
Pada hari Kemis tanggal 12 April 1931 M. Dan 13 Syawal 1349 H. La Mappanukki dilantik menjadi Mangkau’ di Bone dan dalam khutbah Jumat namanya disebut sebagai Sultan Ibrahim. Pada waktu itu Pembesar Kompeni Belanda di Celebes Selatan bernama Tuan L.J.J. Karon serta Raja Belanda di Nederland pada waktu itu bernama A.C.A de Graff.
Setelah dilantik menjadi Mangkau’ di Bone La Mappanyukki meminta kepada Pembesar Kompeni Belanda untuk diberikan kembali rumah (salassa) milik La Pawawoi Karaeng Sigeri yang diambil oleh Belanda pada saat diasingkannya La Pawawoi ke Bandung. Permintaan tersebut dipenuhi oleh Pembesar Kompeni Belanda. Rumah itulah yang ditempati Arumpone La Mappanyukki bersama seluruh anggota Hadat Tujuh Bone sebagai tempat untuk melaksanakan pemerintahannya.
Pada masa pemerintahan La Mappanyukki, La Pabbenteng Arung Macege anak dari Baso Pagilingi Abdul Hamid dengan isterinya We Cenra Arung Cinnong, membunuh sepupu satu kalinya yang bernama Daeng Patobo saudara dari La Sambaloge Daeng Manabba Sulewatang Palakka. Oleh karena itu dia dikeluarkan dan diberhentikan sebagai Arung Macege. Kemudian Arumpone La Mappanyukki memanggil anaknya yang bernama La Pangerang yang pada waktu itu menjadi Bestuur Assistent atau Lanshap di Gowa untuk menggantikan La Pabbenteng sebagai Arung Macege.
Anaknya yang bernama La Pangerang itulah yang sering menggantikan ayahnya kalau bepergian jauh atau pada saat ayahnya tidak berkesempatan.
Pada masa pemerintahan La Mappanyukki di Bone, Perang Dunia II pecah dan melibatkan seluruh negara-negara besar di Eropa. Negeri Belanda diserbu oleh Jerman, Ratu Belanda Wilhelmina melarikan diri bersama seluruh keluarganya ke Inggeris untuk minta perlindungan.
La Mappanyukki yang dikenal patuh dalam melaksanakan syariat Islam, sehingga pada tahun 1941 M. ia mendirikan Mesjid Raya Watampone. La Mappanyukki mengundang Pembesar Kompeni Belanda yang bernama Tuan Resident Boslaar untuk meresmikan pemakaian mesjid tersebut.
Pada tanggal 8 Desember 1941 M. dampak Perang Dunia II juga terjadi di Celebes Selatan dengan datangnya Bangsa Jepang bersekutu dengan Jerman dan Italia untuk melawan Belanda dan Amerika. Pada tahun 1942 M. Belanda bertekuk lutut kepada Jepang dan Gubernur Jenderal Belanda di Jakarta menyerah.
Pada masa pemerintahan Jepang, nama Mangkau diganti dengan Bahasa Jepang menjadi Sutyoo dan Hadat menjadi Sutyoo Dairi. Sedangkan Arung Lili disebut Guntyoo dan Kepala Kampung disebut Sontyoo. Kedudukan Controleur Petoro Belanda diganti dengan Bunken Kanrikan, sedangkan kedudukan Assistent Resident diganti dengan Ken Kanrikan.
Jepang memerintah selama tiga setengah tahun yang membuat penderitaan dan kesengsaran bagi penduduk negeri. Hampir seluruh penduduk mengalami kekurangan makanan dan pakaian. Terjadilah kelaparan dimana-mana, perampokan juga tidak bisa ditanggulangi.
Karena Jepang merasa semakin terdesak dan tidak mampu lagi untuk memperkuat perlengkapan perangnya, Jepang membujuk penduduk pribumi untuk ikut memperkuat tentaranya dengan membentuk Heiho yang dikenal di Jawa sebagai Pembela Tanah Air (PETA).
Dalam tahun 1944 M. Jepang menjanjikan kemerdekan kepada Bangsa Indonesia. Datanglah Ir. Soekarno dari Jawa ke Celebes Selatan ( Ujungpandang) untuk menjelaskan kepada penduduk tentang maksud dan tujuan kemerdekaan itu. Setelah Ir. Soekarno kembali ke Jawa, Jepang juga mulai menarik diri dari kegiatan pemerintahan. Diangkatlah La Pangerang Arung Macege untuk menempati kedudukan Jepang yang disebut Ken Kanrikan.
Pada awal Kemerdekan Indonesia banyak orang yang ragu dan sulit untuk menentukan pendirian, dengan alasan sangat berbahaya dari tekanan Tentara Australia yangt bernama NICA ( Nederloand Indiche Cipil Administration). Namun bagi Arumpone La Mappanyukki dengan tegas menyatakan tetap berdiri dibelakang Republik Indonesia yang di peroklamirkan oleh Soekarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 M.
Adapun anaknya yang bernama La Pangerang yang pernah menjadi Arung Macege, pada masa pemerintahan Jepang diangkat sebagai Ken Kanrikan sama dengan Petoro Besar atau Assistent Residen di zaman Belanda. Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, ditunjuk bersama DR Ratulangi pergi ke Jakarta sebagai utusan Indonesia bahagian timur dalam mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia. Tetapi setelah kembali dari Jawa, ia ditangkap oleh tentara NICA dan diasingkan ke Tanah Toraja bersama ayahnya La Mappanyukki.
Setelah proklamasi kemerdekan 17 Agustus 1945 dikumandangkan oleh Soekarno dan Hatta,La Pangerang dikembalikan ke Bone untuk menjadi Bupati Kepala Daerah Kabupaten Bone lama yang meliputi TellumpoccoE, kemudian diangkat menjadi Residen bersama Karaeng Pangkajenne yang bernama Burhanuddin, ketika Lanto Daeng Pasewang menjadi Gubernur Sulawesi. Setelah masa jabatan Lanto Daeng Pasewang berakhir, maka Pangerang yang nama lengkapnya Pangerang Daeng Rani menggantikannya menjadi Gubernur Sulawesi.
La Pangerang Daeng Rani kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama Petta Lebba, anak La Panguriseng saudara La Mappanyukki dengan isterinya I Puji. Dari perkawinannya itu, lahirlah ; pertama bernama Abdullah Petta Nyonri, kedua bernama We Cina atau Mariayama, ketiga bernama We Ralle, keempat bernama We Tongeng. Kelima bernama I Kennang. Kemudian La Pangerang Daeng Rani kawin lagi dengan I Suruga Daeng Karaeng, anak Karaeng Parigi
Sedangkan anak La Mappanyukki yang bernama Abdullah Bau Massepe, inilah yang menjadi Datu Suppa.
Akan tetapi dimasa perang kemerdekan, dia dibunuh oleh serdadu Belanda yang bernama Westerling dalam peristiwa Korban 40.000 jiwa di Sulawesi Selatan. Abdullah Bau Massepe kawin dengan We Soji Petta Kanjenne.
Anak La Mappanyukki dengan isterinya yang bernama Besse Bulo adalah I Rakiyah Bau Baco Karaeng Balla Tinggi. Inilah yang menjadi Addatuang Sawitto. Kawin dengan La Makkulawu anak dari We Mappasessu Datu WaliE, dengan suaminya yang bernama La Mappabeta. Selanjutnya anak La Mappanyukki dari isterinya yang bernama We Mannenne Karaeng Balangsari, adalah ; We Tenri Paddanreng. Inilah yang kawin di Luwu dengan La Jemma atau La Patiware Pajung ri Luwu.
Ketika La Pangerang Daeng Rani menjadi Gubernur Sulawesi, pemerintah pusat membagi Sulawesi menjadi dua Provinsi, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Utara. Kemudian kewedanan juga dirubah menjadi kabupaten. Oleh karena itu Kabupaten Bone lama dipecah menjadi tiga kabupaten, yaitu ;
- Kabupaten Bone dengan ibu kotanya Watampone.
- Kabupaten Wajo dengan ibu kotanya Sengkang.
- Kabupaten Soppeng dengan ibu kotanya Watassoppeng.
Hal yang demikian, merupakan realisasi dari UU No.4 Tahun 1957 sebagai pembubaran Daerah Bone lama meliputi Daerah Bone baru, ialah Zelfbestuur atau Swapraja Bone, ialah Kabupaten Bone baru dengan ibu kotanya Watampone.
Pada waktu itu, La Mappanyukki dikembalikan ke Bone untuk menjadi Bupati Kepala Daerah Kabupaten Bone. Setelah sampai masa jabatan dan pensiun, maka kembalilah La Mappanyukki ke Jongaya. Pada tanggal 18 Februari 1967 M. ia meninggal dunia dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Panaikang.
tahun 1827-1904 atas nama PETTA PALADENG atau PETTA PUNGGAWAE adalah pahlawan besar yang dikenal sangat berani dan berhasil mengusir pendudukan belanda (voc) tapi mengapa nama beliau tdk pernah di angkat dalam sejarah bone.
Sejarah perlawanan Bone terhadap Belanda memang banyak dikebiri, terutama pada masa orde lama dan orde baru. Yang justeru banyak ditonjolkan adalah perlawan Aru Palakka terhadap Sultan Hasanuddin yang nota bene adalah pahlawan nasional. Hal ini sebenarnya hanyalah trik pemerintah pusat plus sejarawan lokal untuk mengentalkan semangat nasionalisme di awal kemerdekaan. Secara politik, memang tidak ada salahnya tetapi tokoh sejarah akan berbicara lain.
Sebenarnya, kisah kepahlawan Petta PonggawaE banyak diekspos. Bahkan pernah di filmkan. Rumpa’na Bone adalah salah satu ekspos terbesar peran Petta PonggawaE dalam upaya mengusir Belanda dari Sulawesi.
Terima kasih telah mampir di blog kami.
Kakekku La Koro Petta Bau anaknya La Sailong Arung Tuwug(Barru) dan cucu dari La Sameggu Petta Kalebbu Karaeng Segeri(Pangkep) bersama I Makkulawu Karaeng Lembang Parang, dimana La Koro Petta Bau sebagai Panglima perang Gowa berperang frontal melawan Belanda di pegunungan daerah Enrekan-Tator. SombaE ri GOWA gugur dalam peperangan dan La Koro meneruskan perlawanan dengan bergerilya melawan BELANDA tapi akhirnya berhasil kena tipu daya Belanda, beliau(La Koro) ditangkap dan di buang ke Bengkulu bersama kakandanya La Mattiniyo ARUNG TUWUNG bersama pengikutnya(suka rela mengikuti PUANGNNA KEMBUANGAN) SELAMA TUJUH TAHUN SETENGAH.
Jika ibu Andi punya salinan silsilahnya, mohon di kirim ke email saya untuk saya posting di http://www.myheritage.com/site-50124411/kerajaan-bone-web-site. Silsilah tersebut belum sempat saya tambah entrinya, tetapi data sebenarnya sudah cukup lengkap. Hanya saja, jika ada tambahan, kan akan lebih baik dan lebiih meyakinkan.
Terima kasih.
i
BIDADARI DAN SUMUR LAPAKKITA ALITTA Alkisah, ketika ibundanya We Cella Arung Alitta 1 mangkat, maka La Massora kembali ke Alitta. Dia memutuskan untuk tidak kembali ke kerajaan gowa dan akan menetap di Alitta. La Massora menghabiskan masa kecil hinggah dewasa di kerajaan Gowa. Sebab saat La Massora kecil datanglah Raja Gowa Tunipallangga Ulaweng ke Alitta, Suppa dan Sawitto dengan maksud ingin menguasainya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1566 M. saat Karaeng Tunippalangga Ulaweng kembali ke kerajaan Gowa, dia membawa serta La Massora. Dia membesarkan La Massora bersama anak bangsawan Gowa lainnya. Bahkan saat raja Gowa memeluk agama islampada tahun 1024 M , La Massora ikut mengucapkan dua kalimat syahadat,di sekitar tahun 1603 M, ibunda La Massora wafat, sehinggah La Massora memutuskan untuk kembali dan menetap di Alitta.Seprti umunya bangsawan Bugis-Makassar, maka La Massora mempunyai hobbi berburu, bahkan sejak menetap di Alitta, La Massora makin sering masuk ke hutan untuk berburu, setiap La Massora berburu dia di temani anjing hitam kesayangannya. Ia juga sering d temani seorang kakek tua yang hobbinya berburu ayam hutan.Namun pada suatu hari kakek tua itu pergi berburu ayam hutan sendiri, saat kakek tua itu sedang menunggu jebakan jerat menjerat ayam hutan, sayup-sayup ia mendengar suara gadis yang sedang tertawa dan kadang d selingi gonggongan anjing yang sepertinya sering ia dengar, sang kakek tua pun segera mencari asal suara itu. Alangkah terkejutnya saat melihat tujuh orang Bidadari mandi dan bersenda gurau, bidadari itu manti pada sumur yang berbeda, masing-masing dengan satu sumur satu orang dan ternyata suara anjing itu berasal dari seekor anjing berwarna hitam yang sangat di kenalnya. Anjing itu milik Raja Alitta yang selalu menghilan setiap malam jumat dan baru kemabali pada hari jumat sore.Setelah yakin dengan apa yang dilihatnya, maka sang kakek tua segerah ke istana kerajaan Alitta menghadap raja, kakek tua lau menyampaikan dengan apa yang dilihatnya di hutan serta keberajaan anjing baginda, mendengar kabar itu, La Massora raja Alitta pun jadi penasaran, apakah karena menghilangnnya anjing kesayangannya setiap malam jumat hinggah jumat sore baru kemabli ada hubungannya denganpara bidadari tersebut, apalagi setiap anjingnya pulang ia mencium bau yang sangat harum, La Massora pun memutuskan menyelidiki kejadian tersebut.Pada malam jumat berikutnya, La Massora tidak lagi melepaskan anjingnya. Keesokankan harinya pada hari jumat dengan disampingin sang kakek tua dan pengawal kepercayaanya serta anjing kesayangannya masuk kehutan untuk membuktikan cerita sang kakek tentang anak bidadari dan anjingnya. Mereka swegera menuju ketempat sang kakek tua menemukan bidadari tersebut. Sesampainya di sana, mereka segerah mencari tempat persembunyian yang aman. Pada saat tengah hari tiba-tiba kabutpun turun menyelimuti tempat itu. Tidak lama kemudian turun bianglala dan muncullah tujuh orang bidadari yang cantik jelita. Setiap bidadari segerha menujuh satu sumur dan segerah mandi. Para bidadari itu bermain dan bercanda sambil mandi. Tercium bau yang harum semerbak disekitar tempat tersebut.Melihat kedatangan bidadari,. Maka anjing La Massora mulai gelisah. Baginda melepaskan anjingnya untuk melihat apa yang akan dilakukannya ternyata anjing serta merta berlari menuju ke anak bidadari mandi. Ketujuh anak bidadari itu nampaknya sudah tidak asing dengan anjing sang raja, sehinggah kedatangannya disambut gembira. Bahkan ikut bermain bersama ke tujuh bidadari yang cantik jelita dan sesekali menggonggong dalam hati La Massora berkata pantas setiap kali anjingku pulang setelah menghilang pada malam jumat, baunya sangat harum, ternyata berasal dari bau para bidadari.La Massora memnperhatikqan tingkah laku anjingnya bersama sang bidadari tanpa berkedip. Tiba-tiba berkatalah bidadari yang sulung kepada adik-adiknya” mandilah kalian cepat, saya mencium bau manusia di tempat ini “. Maka merekapun bergegas mengenakkan pakaian masing-masing. Sedangkan si bungsu karena begitu asyiknya mandi dan bermain. Kesempatan itu oleh La Massora untuk mengambil pakaian bidadari yang bungsu. Sementara itu bianglala sudah muncul dari keenam bidadari lainnya segerah menuju kesana untuk kembali kekayangan.Setelah puas mandi, maka bidadari bungsu pun segerah mencari pakaianya. Alangkah kagetnya sang bidadari karena ternyta pakaiannya sudah tidak ada dia pun jadi Panik setelah menyadari kakak-kakaknya sudah tidak ada , sang bidadari bungsu melihat keenam kakaknya sudah sudah berada di bianglala untuk kembali kekayangan. Maka bidadari bungsu menangis dan berteriak sekeras-kerasnya memanggil kakak-kakaknya. Namun keenam kakaknya tidak bias membantunya karena bianglala itu sudah bergerak kembali kekayangan. Sementara itu La Massora pun secepat kilat melompat menangkap sang bidadari yang terus meronta-ronta ingin melepaskan diri. Akhirnya bidadari itu hanya pasrah dan tidak bias berbuat apa-apa karena biang lala dan kakaknya sudah menghilang.La Massora memerintahkan kepada seseorang pengawalnya untuk segerah kembali kekampung untuk menyampaikan kabar gembira ini kerakyat kerajaan Alitta. La Massora menitip pesan agar rakyatnya mempersiapkan acara penyambutan untuk bidadari. Maka tua muda, laki-laki,perempuan, orang dewasa dan anak-anak segerah mempersiapkan acara penyambutan untuk bidadari.Pengawal La Massora kembali kehutan membawa beberapa orang yang nantinya akan melaksanakan upacara penyambutan untuyk bidadari. Mereka membawa gong, gendang, kanci, bessi banrangngeng, weroni, titi lagoni,parametti dama, lanra pattola dan lain-lain. Setibanya di tempat bidadari, merekapun segera melaksanakan upacara penyambutan . mendengar bunyi-bunyian yang biasanya juga diperdengarkan saat upacara di kayangan , hati bidadari pun jadi tenang .Selanjutnya la Massora bersama rombongan mengarak sang bidadari menuju istana kerajaan Alitta . sepanjang perjalanan tersebut ada beberapa peristiwa terjadi yang berkaitan dengan penamaan kampung yang dilewati.Pada saat melewati sumur La kempung . rombongan singgah untuk beristirahat. Tempat ini kelak dikeramatkan oleh orang Alitta.Melanjutkan perjalanan , kembali rombongan singgah di sumur cacaE untuk melepaskan dahaga. Setelah itu perjalanan dilanjutkan. Namun di tengah perjalanan tiba-tiba sang bidadari merajuk tidak mau melanjutkan perjalanan. Dia teringat dengan kakak-kakaknya yang telah kembali ke kayangan. Agar bidadari mau melanjutkan perjalanan ,maka rombongan saling berpegangan tangan untuk menghalau bidadari agar mau berjalan … Oleh sebab itu, tempat ini kemudian dinamai ‘’Wala-Walae’’ yang berarti ‘’memagari ‘’ dengan tangan. Terdesak akhirnya sang bidadari pun berjalan kembali. Namun setelah perjalanan agak jauh barulah dia mau berjalan tanpa dihalau. Oleh sabab itu, rombongan melepaskan tangan dan membiarkan bidadari berjalan sendiri. Peristiwa ‘’melepaskan pegangan tangan ‘’, maka kampong itu di namai kampung ‘’pallereang’’ yang artinya ‘ melonggarkan ‘. Rombongan meninggalkan kampung pallereang menuju kearah utara. Sesampainya di sebuah sungai , kembali sang bidadari menolak berjalan ia hanya berdiri dan tidak mau bergerak ‘’Majjojjo’’. Sehingga dinamailah tempat itu Lajojjorang .Perjalanan kembali dilanjutkan setelah sang bidadari sudah bersedia berjalan . Namun setelah berjalan sekian lama, sang bidadari berhenti dan meminta agar rambutnya di sisir . Maka tempat itu di namai ‘’ Lamajjakka ‘’ yang berarti ‘’bersisir ‘’. Setelah rambutnya disisir barulah sang bidadari mau berjalan kembali. Tiba di suatu tempat pengawal Lamassora menancapkan sebatang besi ke tanah (bessi banrangeng), maka dinamailah tempat tersebut kampung ‘’Labessi ‘’. Besi dalam bahasa Bugis disebut bessi. Selanjutnya rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju istana. Berhubung sudah dekat dengan pemukiman , maka Lamassora memerintahkan rombongan untuk memakai pakaian berwarna merah untuk melaksanakan upacara penyambutan. Oleh sebab itu tempat ini dinamai kampung ‘’ejaE ‘’. Dalam bahasa Bugis setempat berarti merah. Setelah pemukiman semakin dekat, tiba-tiba bidadari kembali menolak untuk melanjutkan perjalanan, karna sudah dekat pemukiman , maka mulailah dibunyikan ‘’ genrang tellu ‘’ . ternyata setelah mendengar bunyi ‘’ genrang tellu ‘’ tersebut diapun berjalan kembali. Genrang tellu biasa dibunyikan pula pada upacara-upacara di kayangan. Maka dinamakanlah tempat tersebut sebagai kampong ‘’Laganrang ‘’. Sampailah rombongan di suatu tempat yang menurun, sehingga dari jauh dapat dilihat kedatangan masyarakat yang berbondong-bondong seperti air yang mengalir menyambut kedatangan rombongan La Massora yang membawa sang bidadari. Oleh sebab itu tempat tersebut kemudian di namai kampung ‘’Solorengnge’’. Karna rakyat kerajaan Alitta ‘’Massolo’’ menyambut kedatangan bidadari. Massolo dalam bahasa Bugis berarti mengalir.Tiba dipinggir pemukiman,rakyat kerajaan Alitta segera mengerumuni sang bidadari.Mereka ingin melihat dari dekat wajah bidadari yang cantik jelita.Oleh sebab itu tempat tersebut dinamai kampong”Lapakkita”yang berarti”melihat”karena dikerumuni oleh banyak orang,maka sang bidadari pun kembali untuk berjalan namun sang bidadari mengajukan satu permintaan,yaitu agar dibuatkan sebuah sumur ditempat tersebut.Maka dibuatkanlah sang bidadari sebuah sumur.Karena sumur dibuat dikampung Lapakkita,maka disebut sumur Lapakkita.Setelah dibuatkan sumur untuknya,maka dia mulai berjalan.sumur Lapakkita hingga sekarang masih dikeramatkan.Pada hari senin dan kamis,masih ada masyarakat yang dating bersiarah adapun melaksanakan nazarnya.sumur Lapakkita ini tetap berisi air walaupun musim kemarau dan sumur disekitarnya mulai kering.Akhirnya tibalah rombongan di istana.selanjutnya disiapkan acara pernikahan antara La Massora dengan sang bidadari.Di undanglah penghulu ke istana untuk melaksanakan pernikahan antara La Massora dengan bidadari.Kepada sang bidadari diberikan nama We Bungko sebab dia paling muda atau bungsu dari bidadari lainnya.Bungko dalam bahasa bugis berarti bungsu.Namun ada juga yang menyatakan bahwa nama sebenarnya dari bidadari tersebut yaitu We Cudai.Dari pernikahan La Massora dengan We Bungko atau We Cudai lahirlah seorang putera bernama La Baso atau We Wewang Riu. untuk mengasuh La Baso maka La mempercayakan adik perempuannya.Pada suatu hari,saat La Massora pergi berburu.La Baso menangis tidak henti-hentinya untuk menenangkan keponakannya,maka dia pun menyanyi dengan syair sebagai berikut:“Iyo-iyo La Baso,ajammuddaju-raju. tuwoku mallongi-longi. aja muddaju-raju.tengnginangmu tenggaamangmu. tettana sitekkemu.”Artinya wahai La Baso.Janganlah engkau cengen.Semoga engkau panjang umur.tidak ada ibu.Tidak ada ayahmu.Tidak ada tanah gegangmu Mendengar syair lagunya, We Bungko tersinggung. Ia merasa iparnya sengaja menyindir dirinya. Maka ia berucap “ saya tahu bahwa di dunia ini saya hanya sebatang kara. Tetapitetapi takdirkulah sehinggah harus berada di dunia ini “, setelah itu sang bidadari masuk kekamarnya. Ia membungkus sekujur tubuhnya mulai ujung kaki hinggah kepala.Sepulang berburu, lamassora istrinya d kamar. Melihat sikap isterinya, yang tidak seperti biasanya dengan meneyelimuti seluruh badannya, maka La Massora bertanya “ ada apa sehinggah dinda seperti ini ?Mengetahui suaminya sudah pulang We bungko segerah bangun dan menceritakan tentang syair lagu adik iparnya tadi. Ia berkata “ benar di dunia ia hanya sebatang kara. Tidak ber ibu, tidak ber bapak tidak punya saudara dan serta berharta, tetapi karena takdirkulah maka harus kujalani”.Alangkah murkanya La Massora setelah mendengar ucapan isterinya tersebut. Ia segerah mencari adiknya untuk menanyakan apa maksudnya dengan menyanyikan lagu seperti itu. Melihat kakaknya dating dengan raut muka yang sangat marah. Adik La Massora itupun segerah melarikan diri hingga tiba di Bonto Putju. Ia tidak pernah lagi kembali ke Alitta. Ia wafat di sana dan di beri gelar Ptta BaraE.We Bungko yang terlanjur sakita hati memutuskan untuk kembali ke kayangan. Bertepatan dengan itu turunlah bianglala di hutan tempatnya dulu di temukan oleh La Massora. Sebelum berangkat ia menitipkan pakaian yang dulu dia pakai saat di temukan oleh La Massora. Ia menitip pesan untuk suaminya sebagai berikut :“ Tolong sampaikan ke baginda agar menyimpan pakaianku ini sebagai penggati diriku, dan aku titipkan La Baso kepadanya ! “. Setelah berkata demikian ia segerah masuk hutan dengan perasaan penuh kesedihan karena harus meninggalkan suami dan anaknya yang sangat di cintainya. Ia tidak bias membawa serta La Baso ke kayangan karena ayahnya La Baso manusia biasa. Setelah tiba di hutan ia segerah menuju ke bianglala yang akan membawanya kembali ke kayangan.Sementara itu La Massora yang telah pulang mencari adiknya, tidak menemukan isterinya. Ia sudah mencarinya ke seluruh bagian istana. Tak seorangpun berani menyampaikan kepergian We Bungko ke baginda raja. Setelah La Massora bertanya, barulah berani menyampaikan kejadiannya. Tidak lupa menyampaikan pesan We Bungkokepada baginda. Betapa sedih hati La Massora kabar tersebut. Setiap hari La Massora kehutan tempat dia menemukan We Bungko dahulu. Ia berharap bias bertemu kembali dengan We Bungko. Namun hanya kekecewaan yang di perolehnya, karena para bidadari itu tidak pernah lagi dating.Hinggah suatu malam, baginda La Massora bermimpi di datangi oleh We Bungko. Dalam mimpinya tersebut We Bungko berpesan agar La Massora tidak lagi mencarinya. Mereka tidak mungkin lagi bersama ia telah kembali ke kayangan. Sedangkan La Massora hanya manusia biasa sehinggah tidak mungkin bias tinggal di kayangan. We Bungko juga berpesan agar La Massora menjaga La Baso baik-baik”. Jika baginda ingin bertemu denganku datanglah kesumur lapakkita. Duduklah pada batu disisi sumur La Pakkita, kenakkan pakaian yang berwarna hitam dan topi daun nipa pada siang bolong di hari jumat. “ kata We Bungko kepada La Massora setelah itu dia menghilang dan La Massora terbangun. Betapa gundah hati La Massora karena ia tahu tidak mungkin lagi berkumpul dengan isterinya.Maka setiap hari jumat di siang bolong, La Massora berangkat kesumur Lapakkita dengan berpakaian hitam dan bertopi daun nipa untuk bertemu We Bungko. Hingga suatu hari sang bidadari meminta La Massora untuk tidak perlu lagi mencarinya. Bahkan ia memintanya untuk segera mencari isteri yang baru darinkalangan manusia.Sejak itu sang bidadari tidak pernah lagi datang menemui La Massora. Maka La Massora mengatar La Baso ke kerajaan Gowa. Ia mau menitipkan La Baso ke Raja Gowa agar didik seperti dirinya dahulu. Setelah itu ia menuju ke Sawitto dan menikahi We Passule Daeng Bulaeng Addatuang Sawitto. We Passule Daeng BUlaeng inilah kelak mengislamkan kerajaan Sawitto pada tahun 1609 M yang di sebarkan oleh kerajaan gowa
nilah lontara sejarah tanah kelahiranku…dimana sy adalah keturunan bangsawan dan masih mencari silsilah lainnya lamappanyukki datu lolona suppa yg di knl dengan nama datu silaja dan mempunyai saudara yg bernama la pangngurisang bau tode petta alitta,,,terutamanya yg dri barru La Maddussila Karaeng Tanete sya tidak punya sama sekali jdi tolong yg punya silisilanya kirim ke emai sya…
Yth. Bapak Tomanurung,
Kalau ingin lebih tau, ada silsilah dan buku perjuangan kakek La koro Petta Bau di Benteng Ujung Pandang atau hubungi Drs Andi Karamudin Husein di DikBud Makassar.
Yang saya pegang adalah adalah silsilah ayahandaku yang di tulis oleh Karaengta Mangeppe suami dari Bau Munawarah Petta Tempe(yang barusaja meninggal).
Tulisan sebelah yang sudah tutup utk dikomentari mengenai Arung Berru, salah satu putera dari Bau Jojjo(Jonjo) Kalimollah Karaeng Lembangparang adalah Andi Mappaganti Petta Sérang ex Walikota Jakarta Timur.
Terima kasih atas sarannya Bu Andi. Akan saya usahakan menghubungi beliau
saya memiliki silsilah yg lengkap mulai dr batara guru hingg skrng ,sy adlh cucu andi jelling
Yth. To Manurung
Boleh minta tolong mencarikan silsilah kami?
Berdasarkan Stambom (karena sudah dimakan rayap,jadi hurup sudah tidak jelas, itupun saya temukan disebuah peti berukir (repousse) besi tua).
Silsilah dari bapak saya Drs. H. M. Natsir bin Ahmad, Yang dapat saya baca jelas huruf yang menuliskan La Nyala (Petta Lato’) arung Liu (istri 44 org)…….La Abdullah (Petta Tedde’), mundur dari dunia akkarungeng kemudian membuat kampung Salo Tengnga dan Tancung Purai, kemudian kawin I Rabiah, dari perkawinan tersebut lahirlah kakek saya Petta Ahmad yang kawin dengan I Pandang anak dari La Paleppang Dg. Pallureng, dari perkawinan itu lahirlah salah satu anaknya bapak saya.
Sementara silsilah dari ibu saya. Dari bapaknya A. Taha dan ibunya Margaretha Dani Bulo-Pong Labba.
Dari bapaknya kakek ibu saya bernama La Baco dari Allakuang – sidrap. Dari Ibu saya (nenek) naka dari perkawinan Puang Waku (Puang Mangura) Lillingan Pong Labba keturunan dari To Manurung Lang’ Parapa’ (dari Tongkonan To’Barana Sa’dan Malimbong) dan ibunya anak dari Puang Bulo dari Tongkonan Buntu Lobo keturunan dari To Manurung Lalong Parapa’ (dari Sa’dan Balusu/ Lu U’; baca Luwu’).
Mohon bantuannya untuk memberikan informasi untuk menguak tabir masa lalu keluarga saya, karena selama ini orang tua saya tidak terlalu menggubris ataupun mengindahkan hal ini.
Berikut saya add. Tulisan yang terbaca tersebut.
Data Tambahan
Silsilah Haji Abdullah La Tedde dan Hajja Rabiah ( Nene Rabiah)
Sumber Wa Hati
Manyoro (Mayor) La Mammi Daeng Patippe + I Pacorai (Pammana)
………………………………………………………………………………
1. La Mangangku (Pammana) + I Meja (anak Sullewatang Leworeng)
————————————————————————–
1. Pondo
2. Paddai
3. I Rabiah + La Massalengke anak Sullewatan Kawerang
I Rabiah + La Tedde
2. I Temmaugu
3. La Temmalewa
4. I Temmalewa + La Suno Daeng Mabbara (Liu)
…………………………………………………….
1. La Eco Daeng Pawakkang (La Cengke Manciji Wajo,)
2. La Paboto Daeng Pabeta (La Tengko Arung Belawa Alau, juga sebagai Manciji Wajo,) + We Soji Datu Madello ( anak La Onro (anak We Panangareng (anak La Rumpang Megga Dulung Ajangale Datu Lamuru dan Mario Riwawo )+ La Patongai Datu ri Pattiro) + We Cecu Arung Ganra – arung Belawa (anak dari To Lempeng Arung Singkang yang juga sebagai Datu Soppeng MatinroE ri Larompong))
3. La Jajja Daenmg Mattengnga (La Jollo Datu Patila,)
4. La Paggama Daeng Siwoja (La Mamu Petta Yugi,),
5. I Makkajelli (La Come,)
6. I Tinggi (We Gallo Arung Liu),+ La Mangkona To Rao PajumpungaE, ? ( Anak Petta Ruttung Betteng Pola (tidak ada anak))
I Tassakka + La Muhadi (Toddang Solo’ Soppeng) ananna Arungnge La Dennuang
………………………………………………………………………………………………
1. La Kati + I Tasi’ Daeng Monang ( Nene Cebbang )
Anak La Demma Daeng Siwoja Batubatu + I Tanrere
2. I Massuanna + Daeng Sioja ( Wijanna Petta Padali, Lahir La Bintang + Haji Ceppa, Wijanna Nene Pawo
3. I Halija + La Mkkuaseng (Liu)
…………………………………
1. I Sabbang + La Melleng
2. La Ume
1. La Nyala Petta Lato (Arung Liu) + ?
………………………………………..
La Sunu’ Daeng Mabbara
2. La Sempennena, Arung (La Sampenne Petta La Battowa CakkuridiE ri Wajo anak dari (La Mampulana Arung Ugi dengan isterinya yang bernama We Bakke Datu Kawerang).+ We Banrigau Arung Tajong
1. We Sawe Arung Liu,
2. La Olli Maddanreng Bone
3. We Sikati Andi Ecce (Besse Dalaketeng ?) + La Sampo Arung Ugi yang juga sebagai Arung Belawa.
1. We Busa Petta WaluE Arung Belawa,
2. La Rappe Arung Liu Arung Ugi yang juga Maddanreng di Bone dan Sule Ranreng Tuwa
3. La Maggalatung Daeng PaliE Arung Palippu.
1. We Busa Petta WaluE Arung Belawa + La Tompi Arung Bettempola MatinroE ri Wajo. Anak dari (La Sengngeng Arung Bettempola MatinroE ri Salawana dengan isterinya We Mappangideng Arung Macanang.)
1. We Kalaru Arung Bettempola,
2. La Paramata atau La Tatta Raja Dewa Arung Bettempola,
3. La Tune Mangkau atau La Tune Sangiang Arung Bettempola MatinroE ri Tancung.
……………………………………….
Atas bantuannya terima kasih.
Assalammualaikum Wr,Wb. Terima kasih kepada admin atas cerita yang sangat menarik ini. Khusus untuk Ibu Andi Tenrie yang telah menyebutkan nama buyut saya yaitu Andi Matinio Arung Tuwung adalah Bapak dari Kakek saya Andi Djuanna Daeng Maliungan Petta Sulewatang Barru. Ingin saya menyambung silaturahmi dengan Ibu Andi Tenrie melalui email agar lebih private. Jika ibu berkenan silahkan email saya. Terima kasih kepada admin dan juga Ibu ANdi Tenrie.
Assalamu alakum Wr.Wb. Okey…, okey Andi Irvan, salam juga na.., gimana nih khabarna? apakah masih di Aussy sekarang? atau sudah di Jakarta!? Bagaimana keadaan Tante Cut Azizah begitupun dengan kakak A. Farida atau kak A. Nanda..oya apakah kak A. Irvina masih di Singapore?
Weleh, banyak amat pertanyanku ya? Kapan ke Barru nih lagi musin ikan bandeng tuh di empang Cempa…,atukah Andi Irvan sudah mengunjingi rumah tarzannya Puang Fudin(Prof.Dr Andi Arifuddin Djuanna di gunung Marawung-Barru, keren abis lho…rajin-rajin dong kunjungi asal-usul! Pasti Andi Irvan bingung tujuh keliling baca tulisanku ini!
Salam hormatku buat Tante di sini juga untuk kakaknya disini….
Salam silaturami
Weleh weleh kenal semua dengan keluarga. Saya harus panggil apa pada Ibu Andi Tenrie Pada? Tante atau Zus atau apa?. Memang saya sangat minat dengan sejarah. Ingin sekali mengetahui lokasi dibuangnya buyut kita sewaktu di Bengkulu, mungkin Ibu Andi Tenrie bisa membantu. Alhamdulillah saya masih sering ke Barru menyambung silaturahmi dengan keluarga yang lain. Terima kasih sebelum dan sesudahnya. Salam juga untuk keluarga.
Hello Andi Irvan
Saya Andi Koro, anak dari alm. Andi Idris yang tinggal di ciledug. mungkin bisa di share ke saya emailnya?
Heheheee, ini dia lucu banget….! Tapi jangan khawatir, biasanya kakak Andi Farida memanggil saya, kakak begitupun Andi Nanda atau Andi Vina …atau Andi Faizah tapi ketika ayahanda puang Rivai masih hidup masih sering ketemu, cuma Andi Irvan masih kecil dan manja(anak bontot sih, iya khan!)waktu itu. Andi Ade dan Andi Nadia memang jarang ketemu…, saudara-saudara alias sepupu di Makassardan Barru gak setiap saat ketemu kecuali ada yang menikah atau meninggal(itupun gak semua). Oya, apakah Tante masih tinggal di Pondok Pinang?(yang pasti bukan Cabe khan!)
Baiklah terimakasih atas emailnya dan terimakasih tak terhingga serta salam hormat kepada admin Tomanurunge.
Salam hormat untuk semua keluarga disini…
Baik Kak, terima kasih nanti saya sampaikan. Kalau dari La Koro keturunannya cuma Family Pasinringi dan Family Punagi. Mungkin Kak Tenrie dari salah satu keluarga ini?. Mama masih di Pondok Pinang, begitupun saya tinggal disana bersama Istri dan kedua anak saya. Slam juga untuk keluarga.
Terima kasih kepada Admin dan maaf menjadikan forum ini menjadi diskusi keluarga saya dengan Kak Tenrie.
Arung PAlakka Adalah Penghianat Jelas-jelas dia Membantu Belanda untuk menyerang Kerajaan Gowa…dan itu bukan rekayasa. siapa yang bilang Arung Palakka adalah PAhlawan Nasional…….Pahlawan = Penghianat , penghianat Bangsanya sendiri……………….
Ada baiknya konteks saat itu kita tidak bicara tentang ke Indonesiaan yang baru lahir pada abad ke 20 sedangkan Kejadian gowa-bone itu pada abad ke 17. Jadi mungkin yang perlu dicermati adalah proses dari suatu perjalanan sejarah terlebih dahulu, sebelum kita menjatuhkan pilihan antara pejuang atau penghianat “Arung Palakka”. Sebab apakah salah kalau kerajaan Bone meminta bantuan ke kerajaan belanda untuk melakukan perlawanan kepada kerajaan Gowa yang pada saat itu, bangsa bone, soppeng merupakan daerah jajahan, budak dari pada bangsa Goa. Sehingga rakyat bone dan soppeng (termasuk raja bone-soppeng menjadi tawanan dari kerajaan gowa), dan melakukan kerja paksa/rodi “benteng somba opu”untuk membantu imperium kerajaan Gowa.
Karena kehadiran Arung Palakkala yang mempersatukan kerajaan di Sulawesi Selatan dengan pendekatan budaya (pernikaan silang) di antara kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selaan. Dan Arung Palakka lah yang yang menhapus istiliah daerah palili (daerah jajahan) yang perjah dipraktekkan oleh raja-raja seblumnya di Sul-Sel.
Bustang A. Mappaseling
Dengan hormat,
Saya Ivan Taniputera, sedang menyusun sejarah kerajaan-kerajaan yang pernah eksis di Kepulauan Nusantara pasca keruntuhan Majapahit, termasuk Gowa, Tallo, Bone, dan kerajaan2 lain di Sulawesi Selatan. Saya ada informasi mengenai kronologi Bone, tetapi urutannya berlainan. Juga penomoran rajanya.
Sebagai contoh, pada salah satu silsilah terdapat sisipan raja bernama:
La Pamadanuka Paduka Sri Sultan Sultan Abul-Hadi yang katanya memerintah 1858 – 1860, tetapi nama Ratu Bessek Kajuara tidak dicantumkan.
Mungkin ada rekan-rekan yang memliki sejarah raja-raja Bone yang lebih terperinci?
Bila ada yang memiliki informasi tentang kerajaan2 kecil di Sulawesi Selatan boleh diinformasikan ke saya, sepeti Kerajaan Alitta, Alla, Ajattapareng, dll.
Demikian, atas perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih.
Email saya: ivan_taniputera@yahoo.com
Hormat saya,
Ivan Taniputera
@ Opu To’patalo
Mengapa Aru Palakka membantu Belanda harus dimengerti dalam kerangka lebih luas, yakni membebaskan negerinya dari perhambaan Gowa. Dengan jalan itu ia berhasil memerdekakan negerinya. Belakangan justru Aru Palakka dan keturunannya banyak berselisih dengan Belanda.
Seperti perjuangan La Tenritappu dan Ratu Bassek Kajuara dalam melawan Belanda.
Tentu saja, ini tak ada hubungannya dengan pahlawan nasional atau bukan. Sebagai sejarawan saya meneliti sejarah sebagaimana apa adanya.
Salam hormat,
Ivan Taniputera
apakah ada yang punya dokumen tentang peta kerajaan-kerajaan di sulawesi?
salam kenal,
terima kasih telah mampir di blog ini. secara geografis peta kerajaan-kerajaan di sulawesi selatan bisa ditelusuri pengaruhnya dari waktu ke waktu yang cenderung silih berganti dan saling mempengaruhi.
dalam catatan harian raja bone, la temmasonge to appewaling, misalnya, kerajaan bone hampir mempengaruhi seluruh kerajaan-kerajaan di sulawesi selatan dan barat, kecuali toraja yang sama sekali tidak pernah disinggung. namun demikian, ‘pengaruh’ tidak identik dengan ‘penguasaan’. tidak ada klaim dari kerajaan bone bahwa kerajaan-kerajaan tersebut tunduk kepada kerajaan bone.
perlu pula dicatat, pasca takluknya kerajaan gowa oleh pasukan voc dan pasukan arung palakka, arung palakka melakukan politik-pernikahan dengan la patau sebagai pejantannya. arung palakka untuk pertama kalinya menikahkan ponakannya, la patau dengan we ummung datu larompong anak dari pajung-é ri luwu matinroé ri tompo’tikka dan kedua wé mariama karaéng patukangan anak karaéng-é ri gowa yang bernama i mappadulung daeng mattimung tumenanga ri lakiung (1677-1709).
setelah meninggalnya aru palakka, la patau kemudian berturut-turut kawin dengan datu baringeng yang kemudian melahirkan anak la temmassonge. selanjutnya wé rukiyah di bantaéng, wé to unynyié, wé maisa to lemoape’é, wé to balo-é, dan lain-lain.
sementara, pada masa kerajaan kerajaan gowa, bone, soppeng, dan wajo sempat ditaklukkan dan menjadi jajahannya sebelum akhirnya dimerdekakan oleh aru palakka.
Kakek saya bernama Iparellu De Pabeta, berasal dari bone (kajuara)
sejak usia belasan ia pindah ke bonto – bonto (Pangkep) dan menjadi mado’ (klo ga salah setingkat kepala desa) di bonto – bonto pada masa penjajahan jepang.
Saya ingin mengetahui keluarga saya di kajuara & bersilaturahmi karena berhubung kakek saya sudah lama meninggal & ibu saya (Tenri) juga tidak tau banyak mengenai silsilah keluarga.
Thanks
Zulkarnaen
Untuk mengetahui silsilah dan kelurga bapak di silakan masuk ke komunitas wija tau (to) ugi.
Salam,
CeBe
Maaf mw nanya sdkt ttg keluarga La Mappanyukki, sy mw tau siapa sj saudara beliau, berada dimana dan apa mereka jd raja, panglima perang atau apa.. Tlg kirim ke emailku.. mmmmpa@gmail.com Terima kasih
Untuk mengetahu latar belakang Arumpone, La Mappanyukki silakan baca Akkarungeng ri Bone mulai dari We Tenriwaru Pancaitana Besse Kajuara sampai La Mappanyukki
Salam,
Cebe
siapa saja yg mengetahui para pam ada dimana mohon …. kirimkan pesan ke fb kok gitu aja repot (email anticoruptor@rocketmail.com ) terima kasih atas bantuan nya …. jika membantu ….jika tidak ya tidak…..
mohon maaf, saya tidak tahu mengenai persebaran pam yang anda maksud
salam
CB
Subhanalloh……DERAJAT itu milik ALLAH SUBHANAHUWATA’ALA.
………………………………………………………………..
Aku peranakan Bugis dan Sunda(Rangkasbitung)menemukan tulisan tangan Puang Hajiku(Bapakku)….yang menerangkan bahwa beliau ada garis keturunan dari PETTA BETTENG GOA WAJO: Besse Segeri + Arab (Saiyed) -> Petta Inunu + Petta Bampe Todadi -> Petta Laboa (Andi Daeng Mamala)+ Andi Waru (Angkuru Lowa) -> Pung Inakatta + Puang Laewa(Wa’sahede) -> Pung Lanongko (Kapten Tokadde)+ Pu Iboko -> Lapalari + I patimang -> mempunyai anak 9 orang & Bapakku Bungsu,yang masih hidup & yang lainnya sudah meninggal dunia,yaitu
Daeng Pagiling, Isale, Icabang, Daeng Parenai, Ikuradde, Lasonggo, Laseng & Muhammadong.
………………………………………………………..
Juga menemukan tulisan KARAENG BULU CENRANA (Petta Bulu Cenrana)
dan keturunannya………
MAHA SUCI ALLAH DENGAN SEGALA FIRMANNYA.
idjum syaryati (ijuma’ti)
mungkin sebaiknya bapak masuk di facebook; group sempugi. pengelola group adalah anak-anak bugis-wajo yang mendedikasikan dirinya untuk penggalian budaya dan silsilah.
terima kasih telah mampir di blog kami.
salam
CB
LA PALANGKEANG DATU E ARUNG UNRA (anak dari IMALLINGKAANG KR. KATANGKA/ PATI MATARENG TU MAMMENANGA RI KALABBIRANNA dengan istrinya TENRI PADANG ARUNG BERRU KR. BAINE RI GOWA) kawin dengan OPU HAFSAH lahirlah ANDI BAU HAFNAH yang kawin dengan isterinya ANDI BAU SITTI (anak dari MAPPAULING DATUE ARUNG PANRITA dengan istrinya DATU DJUNGDJUNG ARUNG LOMPU saudara WE BANRI GAU/Raja Bone ke-30 anak dari SINGKERU’ RUKKA/Raja Bone ke-29 dengan istrinya SITTI SAERA ARUNG LOMPU) lahirlah H. ANDI ABDURRACHIM BIN A.BAU HAFNAH kawin dengan isrinya HJ. ANDI SITTI SALMAH BINTI A. ACHMAD MAKKAWI lahirlah H. ANDI ABDULLAH ARSAL kawin dengan isterinya HJ. ANDI DJALEMMARA BINTI ANDI MATTALUNRU.
perkawinan H. ANDI ABDULLAH ARSAL BIN H.A. ABDURRACHIM dengan isterinya HJ. ANDI DJALEMMARA BINTI A. MATTALUNRU melahirkan 8 anak; 1.prempuan IR.ANDI ST. FATMAH ARSAL, Msi 2. laki ANDI M. FAISAL ARSAL(malaysia) 3.laki ANDI FACHRUDDIN ARSAL,SE 4.prempuan ANDI FARIDAH ARSAL, SSi, Msi 5.laki ANDI M.FADLI ARSAL,ST 6. laki ANDI M. FAHRI ARSAL,ST 7.laki ANDI M. FAHMI ARSAL 8.prempuan dr.ANDI ST. FAHIRAH ARSAL
Saya Lahir di Kaltim Penajam Paser Utara
Yg saya tau, sy dr keturunan
Aru Palakka(Bone)
Bau Cella, Baso Suppa dan Besre Parigi, selebihnya Saya tdk tau lontara ada sama keluarga di Mare (Bone) dan saya tdk pernah tau kabarx lagi
Saya Lahir di Kaltim Penajam Paser Utara
Yg saya tau, sy dr keturunan
Aru Palakka(Bone)
Bau Cella, Baso Suppa dan Besre Parigi, selebihnya Saya tdk tau lontara ada sama keluarga di Mare (Bone) dan saya tdk pernah tau kabarx lagi, tlg bantu saya
zone_bone80@yahoo.com
Saya Lahir di
Baikpapan Seberang
(Penajam Paser Utara)
Kaltim
Saya tdk tau silsilah keturan saya.
Yg sy sering dengar dr keturunan:
Aru Palakka (Bone)
dan
Bau Cella, Baso Suppa dan Besse Parigi (Suppa), selebihnya sy tdk tau
Lontara ada sama keluarga
di Mare (Bone) dan saya tdk perna tau , byk keluarga tgl di pegunungan Rappa
antara Mare dan Tonra (Bone)tlg bantu saya
zone_bone80@yahoo.com
LANONGKO… peRnah dengar gak ????
infonya yahh
Kalau Padongko sih iya, adanya di Kabupaten Barru! Dulu, Padongko terpisah dengan Sumpang Binangae(Ibukota tua Barru), dipisahkan oleh sungai yang lebarnya 50-60 meter tapi dengan kuasa Allah SWT hanya semalam(malam Jumat) bersatu, sungai sudah tertimbun tanah, Sumpang Binangae dan Padongko tidak lagi diseberangi dengan lopi(perahu).