La Tenri Ruwa Arung Palakka (1611–3 bln)
La Tenri Ruwa Arung Palakka juga sebagai Arung Pattiro adalah sepupu Wé Tenri Patuppu Matinroé ri Sidenréng. Ketika Arumponé meninggal dunia, orang Bone sepakat untuk mengangkat La Tenri Ruwa menjadi Mangkau’ di Bone.
Belum cukup tiga bulan setelah menjadi Mangkau’, datanglah Karaéngé ri Gowa membawa agama Islam ke Bone. Orang Gowa membuat benteng di Cellu dan Palette. Berkatalah Arumponé kepada orang Bone, ”Kalian telah mengangkat saya menjadi Mangkau’ untuk membawa Bone kepada jalan yang baik. Karaéngé ri Gowa datang membawa agama Islam yang menurutnya adalah kebaikan. Sesuai dengan perjanjian kita yang lalu, siapa yang mendapatkan kebaikan, dialah yang menunjukkan jalan. Oleh karena itu saya mengajak kalian untuk menerima Islam”.
Karaengé ri Gowa berkata, “menurutku Islam adalah kebaikan dan dapat mendatangkan cahaya terang bagi kita. Oleh karena itu saya berpegang pada agama Nabi. Kalau engkau menerima pendapatku, maka Bone dan Gowa akan menjadi besar untuk bersembah kepada Dewata Seuwaé (Allah SWT)”.
Berkata lagi Arumponé kepada orang banyak, “Kalau kalian tidak menerima baik maksud Karaéngé padahal dia benar, dia pasti masih memerangi kita dan kalau kita kalah berarti kita menjadi hamba namanya. Tetapi kalau kalian menerima dengan baik, kita dijanji untuk berdamai. Kalau kita melawan, itu adalah wajar. Jangan kalian menyangka bahwa saya tidak mampu untuk melawannya”.
Ketika itu semua orang Bone menolak Islam. Arumponé La Tenri Ruwa hanya diam, karena dia sudah tahu bahwa orang Bone berpendapat lain. Pergilah Arumponé ke Pattiro dan hanya diikuti oleh keluarga dekatnya. Sesampainya di Pattiro, ia mengajak lagi orang Pattiro untuk menerima agama Islam. Ternyata orang Pattiro juga menolak.
Akhirnya Arumponé naik ke Salassaé (istana) bersama keluarga dan hambanya. Ketika Arumponé ke Pattiro, orang Bone sepakat untuk menjatuhkan La Tenri Ruwa sebagai Arumponé. Diutuslah La Mallalengeng To Alaungeng ke Pattiro untuk menemui Arumponé. Kepada Arumponé La Mallalengeng menyampaikan, ”Saya disuruh oleh orang Bone untuk menyampaikan bahwa bukan lagi orang Bone yang menolak engkau sebagai Mangkau’, tetapi engkau sendiri yang menolak kami semua, karena pada saat Bone menghadapi musuh besar, engkau lalu meninggalkannya”.
Arumpone menjawab, “Saya menyangkal bahwa saya meninggalkan orang Bone, saya hanya menunjukkan jalan kebaikan dan cahaya yang terang. Tetapi kalian tidak mau mengikutinya dan lebih suka memilih jalan kegelapan. Makanya saya pergi memilih jalan kebaikan dan cahaya yang terang itu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya.”
Ketika To Alaungeng kembali ke Bone, Arumponé La Tenri Ruwa menyuruh salah seorang keluarganya ke Palletté untuk bertemu dengan Karaéngé ri Gowa yang sementara berkedudukan di Pallette. Begitu pula Karaéngé menyuruh Karaéng Pettu ke Pattiro menemui Arumponé. Sesampainya Karaéng Pettu di Pattiro dan bertemu Arumponé, tiba-tiba tempatnya bertemu itu dikepung oleh orang Pattiro bersama orang Sibulué. Arumponé sekeluarga bersama Karaéng Pettu meninggalkan tempat menuju ke puncak gunung Maroanging.
Setelah itu, pergilah Arumponé menemui Karaéngé ri Gowa, sementara Karaéng Pettu tinggal menjaga Pattiro. Di Palletté Arumponé La Tenri Ruwa ditanya oleh Karaéngé ri Gowa, ”Sampai dimana batas kekuasaanmu. Sebab saya tahu bahwa Bone adalah milikmu, sementara menurut berita bahwa akkarungeng telah berpindah di Bone”. Arumpone menjawab, ”Yang menjadi milikku adalah Palakka dan Pattiro begitu juga Awamponé. Kalau Mario Riwawo adalah milik isteriku”.
Berkata lagi Karaéngé, ”Sekarang ucapkanlah syahadat, biar Palakka, Pattiro dan Awampone saja yang menerima Islam. Untuk Bone biarkan saja tidak bertuan, Gowa tidak akan memperhambamu”. Arumpone menjawab, ”Karena saya akan mengucapkan syahadat, sehingga saya kemari”.
Selanjutnya Karaéngé ri Gowa berkata, ”Saya juga tahu bahwa Palletté ini adalah milikmu, tetapi kebetulan tempat berdirinya bentengku. Oleh karena itu saya menganggapnya sebagai milikku, namun saya berikan kembali kepadamu”.
Kemudian Karaéngé ri Gowa, Karaéng Tallo dan Arumponé berikrar, Pertama diucapkan oleh Karaéngé ri Gowa dan Karaéng Tallo, ” Inilah yang akan dipersaksikan kepada Déwata Seuwaé bahwa bukanlah turunan Karaéngé ri Gowa dan Karaeng Tallo yang kelak akan mengganggu hak-hakmu. Kalau ada kesulitan yang engkau hadapi, bukalah pintumu untuk kami masuk pada kesulitan itu”. Lalu Arumponé menjawab, ”Wahai Karaéng, ikat padiku tidak akan terbuka, tidak sempurna pula kehidupanku dan apa yang ada dalam pikiranku. Kalau ada kesulitan yang menimpa Tanah Gowa, biar sebatang bambu yang dibentangkan, kami akan melaluinya untuk datang membantumu sampai kepada anak cucumu dan anak cucuku, asalkan tidak melupakan perjanjian ini”.
Setelah ketiganya mengucapkan ikrar, kembalilah Arumponé La Tenri Ruwa ke Pattiro. Lima hari setelah perjanjian itu diucapkan bersama, dibakarlah Bone oleh orang Gowa. Menyerahlah orang-orang Bone dan mengucapkan syahadat. Kemudian Karaéngé ri Gowa dan Karaéng Tallo kembali ke negerinya.
Sejak La Tenri Ruwa meninggalkan Bone dan berada di Pattiro, sejak itu pula orang Bone menganggapnya bahwa dia bukan lagi Mangkau’ di Bone. Kesepakatan orang Bone adalah mengangkat anak dari Matinroé ri Sapananna (addénenna) yang pada saat itu menjadi Arung Timurung yang bernama La Tenri Palé To Akkeppeang. Adapun La Tenri Ruwa setelah Karaengé ri Gowa dan Karaeng Tallo kembali ke negerinya, diusir oleh orang Bone agar meninggalkan Bone. Arumpone inilah yang dianggap mula-mula menerima agama Islam dari Karaéngé ri Gowa dan Karaéng Tallo.
La Tenri Ruwa Matinroé ri Bantaéng berangkat ke Su’ (Mangkasar) dan tinggal pada Dato’ ri Bandang. Ia pun diberi nama Arab yaitu Sultan Adam. Disuruhlah memilih tempat oleh Dato’ dan Karaéngé ri Gowa. Tempat yang dipilihnya adalah Bantaéng dan di Bantaéng lah ia meninggal, oleh karena itu dinamakan Matinroé ri Bantaéng.
::Silsilah::
La Tenri Ruwa kawin dengan sepupunya yang bernama Wé Baji atau Wé Dangké Lebaé ri Mario Riwawo yang kemudian disebut juga Datu Mario Riwawo. Dari perkawinan ini lahirlah: Wé Tenri Sui. Wé Dangké Lebaé ri Mario Riwawo pernah juga kawin dengan To Lempe Arung Patojo saudara kandung Datu Soppeng yang mula-mula memeluk Islam yang bernama Beow-é. Dari perkawinannya lahirlah Wé Bubungeng yang berarti bersaudara kandung dengan Wé Tenri Sui.
Wé Tenri Sui kawin dengan La Pottobune Arung Tanatengnga Datu Lompulle, anak dari Wé Cammaré Datu Lompéngeng Mattendumpulawengé dari suaminya yang bernama To Wawo. Dari perkawinan ini lahirlah:
- La Tenri Tatta To Unru Datu Mario Riwawo
- Wé Tenri Wale Da Umpu Mappolo Bombangé
- Wé Tenri Abang
- Wé Dairi (meninggal diwaktu kecil),
- Wé Tenri Wempeng Daunru (meninggal diwaktu kecil),
- La Tenri Garangi (meninggal diwaktu kecil),
- Wé Kacimpuréng Daoppo Datu Marimari, tidak ada keturunannya.
Wé Bubungeng I Dasajo Arung Pattojo diangkat menjadi datu di Watu, kawin dengan La Tenri Bali Datu Soppeng Matinroé ri Datunna. Dari perkawinan ini lahirlah:
- La Tenri Sengé’ To Wesang, dan
- Wé Yada Matinroé ri Madello.
Arung Tanatengnga kemudian kawin lagi dengan Wé Tenri Pada Datu Watu anak dari Wé Puampé dengan suaminya La Page Datu Mario Riwawo.
Adapun La Tenri Tatta To Unru diwariskan oleh ibunya untuk menjadi datu ri Mario Riwawo, sehingga digelar sebagai Datu Mario Riwawo. La Tenri Tatta kawin dengan sepupunya yang bernama Wé Dadda atau Wé Yadda anak dari We Bubungeng I Dasajo dari suaminya MatinroE ri Datunna. Dari perkawinannya ini tidak melahirkan seorang anak, akhirnya bercerai.
Isteri La Tenri Tatta yang paling dicintainya adalah I Mangkawani Daéng Talélé, tetapi juga tidak ada keturunannya. Oleh karena itu La Tenri Tatta To Unru sampai akhir hayatnya tidak memiliki keturunan.
Saudara kandung La Tenri Tatta yang bernama Wé Tenri Wale Da Umpu Mappolo Bombangé itulah yang maddanreng ri Palakka. Karena setelah La Tenri Tatta kembali dari Mangkasar, orang Bone menobatkannya menjadi Arung Palakka. Mappolo Bombangé kawin dengan La Pakokoé Arung Timurung yang juga Ranreng di Tuwa dan sebagai Arung di Ugi. Dari perkawinan itu lahirlah seorang anak laki-laki La Patau Matanna Tikka Walinonoé To Tenri Bali Malaé Sanrang Matinroé ri Nagauleng.
Sedangkan saudara kandung La Tenri Tatta yang lain yang bernama Tenri Abang Da Eba, itulah yang mengikutinya sewaktu WéLa Tenri Tatta To Unru pergi ke Jakarta. Oleh karena itu, La Tenri Tatta menyerahkan kepada adiknya itu untuk menjadi Datu ri Mario Riwawo. Wé Tenri Abang kawin dengan La Sule atau La Mappajanci Daéng Mattajang Karaéng Taneté, turunan Karaéng Tallo. Dari perkawinannya itu lahir dua orang anak perempuan yang bernama:
- Wé Pattekke Tana Daeng Tanisanga dan
- Wé Tenri Lekke’.
Wé Pattekke Tana kawin dengan Pajungé ri Luwu Matinroé ri Langkanana yang bernama La Onro To Palaguna. Dari perkawinannya itu lahirlah
- Wé Batara Tungké dan
- Wé Fatimah Matinroé ri Pattiro.
Wé Fatimah Matinroé ri Pattiro kawin dengan sepupunya yang bernama La Rumpang Megga To Sappaile. Dari perkawinan itu lahirlah
- Wé Tenri Leleang Datu Luwu dan
- La Oddang Riwu Daéng Mattinring atau La Tenri Oddang. Inilah yang menjadi Arung Pattiro dan Datu Tanete. Selanjutnya melahirkan La Tenri Angké’ Datu Marimari.
Adapun anak Batara Tungke yang bernama Wé Tenri Lekke saudara kandung Wé Pattekke Tana, kawin dengan La Pasau Arung Menge yang juga sebagai Ranreng di Talotenre Wajo.
We Dangke LebaE ri Mario Riwawo dengan suaminya To Lempe Arung Pattojo melahirkan Wé Bubungeng I Dasajo. Wé Bubungeng I Dasajo inilah yang kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Tenri Bali Matinroé ri Datunna, anak dari La Maddussila Arung Mampu Mammesampatué. Dari perkawinan itu lahirlah
- La Tenri Sengé’ To Wesang dan
- Wé Yadda MatinroE ri Madello.
La Tenri Sengé’ To Wesang kawin dengan Wé Pada Daéng Masennang di Pammana, anak dari La Tenri Sessu To Timoé. Dari perkawinannya lahirlah
- La Makkateru (meninggal dunia sewaktu kecil)
- La Karidu yang kemudian menjadi Arung Sekkaili. La Karidu kawin di Pammana dengan anak Watampanuwaé ri Pammana. Dari perkawinan itu lahirlah
Sungguh sangatbparipurna pemahaman akan sejarah kerajaan Bone, oleh karena itu untuk mendapatkan buku rujukan tersebut di atas kira-kira sumber literaturnya. kalao ada tolong di informasikan ke saya pak.
Terima kasih sebelumnya.
Hormat saya.
Bustang A. Mappaseling
Buku Kajao Laliddong dan Catatan Harian Latemmasonge, Raja Bone 1t bisa Pak Andi peroleh pada Bapak Asmat Riadi, juga salinan lontarak yang sudah disadur oleh Beliau dan A. Amir Sessu.
Trim’s
Terima kasih atas informasinya, nanti kalu saya ke bone akan mencari buku tersebut. Cerita mengenai keberadaan para pemimpin Bone masa lalu, mungkin perlu menjadi pelajaran wajib bagi seluruh anak-anak SD di Kabupaten Bone, guna mengetahui sejarah mereka dan sejarah Kabupaten bone itu sendiri. Betapa tidak! hanya sedikit anak-anak Bone yang mengetahui sejarah mereka sendiri. Banyak anak-anak (tanpa kecuali anak-anak murid bone) sekarang lebih mengerti, penyanyi seperti Michael Jacksen, Iwal Fals, Group band Slank dan lain-lain dari pada cerita epos-epos dari para pekerja seni tempo dulu. Demikian halnya, anak sekolah zaman sekarang lebih mengenal cerita maruto, dari pada riwayat tokoh pemberani seperi La Tenri Tata To Unru.
Sekian
Bustang A. Mappaseling.